Beberapa operator industri seluler belakangan ini menyatakan bahwa mereka mengalami penurunan pendapatan . Penurunan tersebut terjadi pada pendapatan layanan suara (voice) dan pesan singkat (text messaging) yang mulai jenuh akibat persaingan tajam antara masing-masing operator. Strategi operator melalui perang harga sudah tidak layak lagi untuk mempertahankan kelangsungan bisnis perusahaan karena hal tersebut menciptakan apa yang disebut sebagai samudera merah dimana persaingan hanya menciptakan ruang pasar yang semakin sesak dengan pertumbuhan yang semakin menurun. Pada kondisi tersebut operator perlu merumuskan bagaimana untuk menciptakan ruang pasar baru melalui penciptaan permintaan dan peluang pertumbuhan yang menguntungkan. Dengan kata lain (meminjam istilah strategi samudera biru) menciptakan ruang tanpa pesaing dan menjadikan persaingan tak lagi relevan. Hal tersebut mungkin dilakukan dengan melakukan perubahan model bisnis yang menyesuaikan dengan landscape industri telekomunikasi saat ini dan tren komunikasi yang ada di konsumen. Landscape Industri Telekomunikasi di Indonesia saat ini Pertumbuhan industri telekomunikasi Indonesia saat ini diikuti oleh menguatnya dua tren utama yaitu tingkat persaingan dan era konvergensi yang ditandai oleh maraknya penggunaan internet terutama untuk social media. Kedua gejala ini semakin marak belakangan ini terutama didorong oleh meningkatnya penggunaan smartphone di Indonesia yang telah menjadi bagian gaya hidup masyarakat. Peningkatan persaingan dan era konvergensi ke depannya akan mengubah landscape di industri telekomunikasi dan mendorong perubahan pola bisnis yang digunakan oleh para operator. Situasi Persaingan : Perang Harga dan Pasar yang Jenuh Dari sisi persaingan saat ini di Indonesia telah ada 10 operator seluler yang menggunakan jaringan GSM dan CDMA. Negara tetangga seperti Filipina hanya memiliki 3 operator begitu juga Malaysia dengan 3 operator. Bahkan Cina hanya memiliki 2 operator seluler. Banyaknya jumlah operator ini menyebabkan persaingan yang tajam diantara para operator terutama melalui strategi perang harga. Temuan dari Citi Investment Research mengenai industri telekomunikasi periode 2007-2008 menyimpulkan bahwa telah terjadi penurunan tarif rata-rata sebesar 44%-70%. Dalam periode tersebut tercatat bahwa operator XL sebagai operator yang sangat agresif dalam penurunan tariff hingga 70 % sementara Telomsel 68% dan indosat hanya sebesar 44% . Tingkat persaingan yang ketat tersebut juga mengakibatkan tingginya churn rate (tingkat perputaran pelanggan). Pasar telepon seluler di Indonesia diperkirakan memiliki tingkat perputaran pelanggan bulanan tertinggi di dunia. Angka perputaran pelanggan telepon seluler di Indonesia diperkirakan mencapai 8,6 persen dalam sebulan. Sementara angka perputaran pelanggan di India mencapai 4 persen per bulan, Malaysia 3,7 persen per bulan, Philipina 3,1 persen per bulan, Thailand 2,9 persen per bulan, Cina 2,7 persen per bulan, dan Bangladesh 2,1 persen per bulan. Namun begitu pasar telekomunikasi bergerak (wireless) di Indonesia masih merupakan potensi yang besar dengan jumlah pengguna sebanyak 235.8 juta (2010) atau berada pada ranking ketiga terbesar di Asia setelah China dan India . Hanya saja pasar yang ada saat ini untuk layanan suara dan pesan singkat mulai jenuh melalui perang harga yang terjadi antara kesepuluh operator tersebut untuk memperebutkan laba yang semakin menyusut. Era Konvergensi, Social Media & Layanan Data Saat ini ketika berbicara mengenai era konvergensi tidak dapat dilepaskan dari perkembangan social media dan layanan internet penunjangnya. Secara umum, bersatunya layanan telekomunikasi, teknologi informasi, dan penyiaran disebut sebagai konvergensi. Secara umum dapat disimpulkan bahwa konvergensi adalah kemampuan atau proses integrasi berbagai teknologi yang meliputi perangkat keras/terminal (hardware), perangkat lunak (software), isi (content), jaringan (network), dan layanan (service) . Bentuk fisik dari konvergensi ini dapat kita nikmati pada berbagai macam perangkat telekomunikasi saat ini yang dapat digunakan tidak hanya untuk menelpon tetapi juga menonton televisi, mendengarkan radio streaming video, dan lainnya. Perubahan ke era konvergensi dapat dilihat dari perubahan gaya hidup masyarakat, perubahan strategi bisnis, dan perubahan regulasi yang menguntungkan pengguna. Telepon seluler telah menjadi tren gaya hidup dan media komunikasi tidak lagi hanya menggunakan jalur suara (voice) atapun data tetapi melalui berbagai aplikasi dari social media yang marak dari para pengembang. Hal ini kemudian menyebabkan perubahan traffic layanan komunikasi dari suara (voice) & pesan singkat (text messaging) ke layanan data. Kini mungkin sebagian orang sudah lupa bagaimana menggunakan layanan pesan singkat karena sebagian besar aktivitas komunikasi yang mereka lakukan menggunakan internet melalui layanan: Blackberry messenger, twitter, what’s up, yahoo messenger, facebook, skype dan lainnya. Hal ini menunjukan pergeseran permintaan kepada layanan data seperti dapat dilihat juga dari indikator pertumbuhan pendapatan layanan data yang lebih tinggi dibanding suara. Frost & Sullivan memprediksikan untuk lima tahun ke depan pendapatan layanan data akan tumbuh sebesar 19 persen sementara layanan suara hanya bertengger di kisaran 3 persen . Era konvergensi ke depannya akan semakin menggelumbungkan pendapatan dari layanan data para operator. Menerjemahkan Kondisi tersebut Menjadi Nilai yang Menguntungkan bagi Operator . Dari gambaran landscape bisnis tersebut terlihat kondisi persaingan ketat dan tren komunikasi yang didorong oleh internet dan konvergensi layanan akan sangat menguntungkan konsumen dan memberatkan operator telekomunikasi. Sumber pendapatan utama operator melalui layanan suara dan pesan singkat tidak lagi dapat diandalkan sebagai pendorong pertumbuhan margin perusahaan operator. Penetrasi yang dilakukan melalui akuisi konsumen juga tidak terlalu banyak memberikan hasil yang berarti terhadap pendapatan operator jika hanya mengandalkan pada layanan suara dan pesan singkat. Kondisi persaingan dan tren penggunaan internet dalam masyarakat menuntut para operator untuk menggunakan strategi menghadapi kondisi persaingan tersebut. Pertanyaan mendasar bagi para operator adalah bagaimana untuk menerjemahkan kondisi tersebut menjadi sebuah nilai yang dapat menguntungkan perusahaan secara berkesinambungan. Salah satu fakta yang tidak dapat dipungkiri lagi adalah terjadinya penurunan dalam penggunan suara dan pesan singkat sehingga strategi perang harga bukanlah hal yang dapat terus dilakukan oleh operator. Operator perlu memikirkan untuk mencari penerimaan dari sisi lain bisnisnya melalui penciptaan nilai tambah dari platform yang ada. Kemudian Tren konvergensi yang diikuti oleh meningkatnya penggunaan layana data (internet) juga membuka peluang baru bagi operator karena operator kini dapat membuat sebuah platform bisnis baru dimana saluran yang dimiliki melalui layanan internet dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi operator. Menciptakan Nilai Melalui Model Bisnis Dua Sisi Model bisnis dua sisi pada dasarnya merupakan sebuah platform untuk menciptakan nilai bagi produsen melalui penciptaaan arus penerimaan (revenue stream) dari kedua sisi dalam aktivitas bisnis perusahaan. Sisi pertama bisa disebut sebagai sisi hilir (downstream partner) adalah konsumen atau pengguna layanan telekomunikasi sementara sisi kedua bisa disebut sebagai hulu (upstream partner) adalah pemasok/penyedia jasa bagi produsen itu sendiri. Dalam konteks operator telekomunikasi sisi hilir adalah pengguna layanan telekomunikasi yang menggunakan jasa telekomunikasi dengan membayar pulsa. Pengguna di sini bisa terdiri dari konsumen individu maupun perusahaan. Sementara sisi hulu adalah pemasok yang mendukung bisnis operator mulai dari penyedia jasa konten dalam bentuk aplikasi, pedagang retail telekomunikasi, ataupun pihak ketiga lainnnya yang dapat memanfaatkan jasa operator dalam melakukan bisnis selulernya. Pendapatan yang dapat diperoleh operator telekomunikasi dari sisi hilir adalah pendapatan dari layanan suara, pesan singkat, media dan data yang dipakai oleh pengguna telekomunikasi yang bisa terdiri dari banyak segmen. Sisi ini adalah bentuk tradisional bisnis yang dilakukan oleh operator telekomunikasi saat ini terutama dalam layanan suara (voice), pesan singkat (text messaging) dan data. Sementara itu pendapatan dari sisi hulu diperoleh dari adanya platform bisnis yang menyediakan penyedia jasa pihak ketiga untuk mendistribusikan layananan suara, konten dan data kepada para pengguna akhir melalui jalur distribusi yang dimiliki oleh operator melalui internet, sms, broadcast (siaran internet TV), dan lain-lain. Dengan kata lain platform yang digunakan oleh operator adalah sebagai penyedia jalur distribusi bagi pihak ketiga melalui saluran yang dimiliki oleh operator. Seiring dengan tren penggunaan internet maka operator dapat menggunakan saluran distribusi yang dimilikinya untuk memberdayakan pendapatan dari sisi hulu. Operator dapat menjual saluran tersebut dalam bentuk layanan premium (value added service) seperti yang telah dilakukan saat ini yang tengah menjadi masalah. Ooperator telekomunikasi saat ini mulai fokus kepengembangan value added service (VAS). Biasanya VAS yang ditawarkan dibarengi juga dengan promo layanan data. Karena menurut beberapa analis, masyarakat Indonesia mulai menyukai layanan data dan promo-promo yang ditawarkan. Perusahaan telekomunikasi seperti XL pun mulai memperluas investasi mereka di bidang layanan data seperti 3G dan lain lainnya. VAS sendiri bukan hal yang baru, tetapi boleh dibilang VAS saat ini sedang digiatkan dan menjadi salah satu mesin uang baru bagi para operator. Operator tidak lagi perang harga, perbedaan harga tidaklah menjadi sesuatu yang di nomor wahidkan. Tetapi layanan “baru” seperti aplikasi, games, dan layanan SMS premium yang unik, adalah hal yang menjadi rebutan Sementara itu layanan bisnis value added service saat ini sedang mendapatkan tantangan setelah tercoreng dengan adanya kasus sedot sms yang merugikan masyarakat dan membuat mereka kapok untuk berlangganan layanan tersebut. Salah satu contoh sukses dalam model bisnis dua sisi adalah yang dilakukan oleh Google.Inc
Desember 31, 2011
Subscribe to:
Poskan Komentar (Atom)



0 Comments:
Post a Comment