Juli 13, 2008

Dunia yang semakin global dan bumi yang memanas

Globalisasi secara nyata telah meruntuhkan sekat-sekat antar manusia, bangsa dan negara di berbagai belahan dunia ini. Hal itu menjadikan dunia terasa semakin sempit seperti berada dalam metromini yang padat penumpangnya. Apa yang terjadi di satu belahan dunia dalam sekejap akan segera diketahui, dirasakan dan memicu reaksi di belahan dunia lainnya. Tragedi kemanusian di Palestina segera memicu kemarahan di berbagai negara (terutama muslim) lainnya. Mode fashion terbaru di Milan dalam hitungan jam segera beredar di kota lainnnya di dunia. Bahkan dalam konteks lain setiap kejadian dapat saling berinteraksi dan bereaksi secara bersamaan dan mengakibatkan efek simultan. Konon kenaikan harga BBM adalah salah satunya.

Yang tidak kalah pentingnya dalam globalisasi adalah implikasi terhadap lingkungan dan keberlanjutan bumi ini kemudian. Aktivitas ekonomi di negara Paman Sam yang memberikan kontribusi terhadap emisi gas karbondioksida (penyebab pemanasan global) terbesar di dunia dunia (sebesar 25 persen), diprediksi mampu menyebabkan hilangnya negara kepulaan Maladewa sekitar 50 tahun kemudian (Stiglitz, 2006). Globalisasi tidak hanya mempercepat perkembangan ekonomi dan penyebaran informasi namun juga mempercepat perubahan iklim Bumi ini.

Karena kita tinggal dalam atmosfer yang sama maka polusi oleh satu negara akan segera dirasakan negara-negara lainnya.
Pemanasan global secara singkat dapat dijelaskan sebagai akibat dari pelepasan emisi gas karbondioksida ke udara dari berbagai aktivitas manusia yang menghasilkan emisi gas-gas rumah kaca terutama CO2 (karbondioksida). Seperti kita ketahui ketika sinar matahari masuk ke bumi sebagian dari sinar UV yang terfilter akan dipantulkan kembali ke angkasa, sisanya akan diserap oleh bumi, hal itu terjadi karena bumi memiliki lapisan pelindung seperti atmosfer, gunanya untuk memfilter sinar UV. Namun akibat gas-gas rumah kaca yang mengumpul cukup banyak dan menahan energi panas matahari di atmosfer maka yang terjadi kemudian adalah peningkatan suhu bumi, persis seperti yang terjadi dalam sebuah rumah kaca.

Pengaruh dari perubahan iklim baru disadari beberapa waktu belakangan ini, terutama setelah Al Gore mengkampanyekan video inconvenient truth-nya. Namun penyebab perubahan iklim telah dimulai jauh sebelumnya, beberapa pihak meyakini bahwa hal itu menjadi semakin terakselerasi sejak manusia menggantikan tenaga manusia dengan mesin-mesin terutama yang berbahan bakar fosil yang menghasilkan emisi gas. Lebih tepatnya sekitar akhir abad 18 ketika terjad revolusi industri di Inggris dan beberapa negara Eropa lainnya yang kemudian melakukan perubahan pola produksi massal yang membawa dampak terhadap efisiensi namun dengan biaya yang harus ditanggung oleh lingkungan saat ini dan masa depan.

Hasilnya mungkin baru sedikit yang kita rasakan saat ini, namun beberapa yang bisa kita lihat adalah terjadinya lebih banyak kemarau, banjir, angin siklon, badai dan iklim fundamental di Eropa berubah secara drastis karena Gulf stream atau arus teluk-yang merupakan gelombang panas di pesisir timur amerika Utara- berubah arah(Stiglitz, 2006). Fakta lainnya adalah terjadinya peningkatan ketinggian air laut karena mulai mencairnya gletser dan es di kutub.

Globalisasi yang sedang kita nikmati saat ini memang membawa kemajuan ekonomi dan meningkatkan kemampuan kita untuk mengeksploitasi sumber daya yang ada dengan lebih cepat, namun sayangnya juga dengan lebih tidak hati-hati. Kemampuan manusia dalam mengeksploitasi bumi secara lebih cepat daripada kemampuanya mengatur penggunaan sumber-daya yang ada akan menghasilkan sebuah ancaman dalam ketahanan iklim.

Masalah ketahanan iklim ini adalah persoalan bersama seluruh manusia, negara dan bangsa di bumi ini, karena apa yang diproduksi oleh suatu negara di satu belahan dunia yang menimbulkan eksternalitas berupa polusi dan pelepasan gas rumah kaca harus ditanggung oleh semua negara. Karena ini adalah masalah global maka solusi yang tepat juga harus bersifat global dan melibatkan baik negara maju dan berkembang dalam suatu posisi yang adil.

Jika ingin mencari-cari kesalahan maka jelas penyebab utama dari perubahan iklim adalah aktivitas ekonomi negara-negara maju (sebagai ilustrasi 25 persen emisi di dunia disumbangkan oleh Amerika Serikat). Logika sederhana pun akan membenarkan, siapa yang berbuat lebih banyak harus bertanggung jawab lebih besar namun kenyataannya terutama dalam perundingan-perundingan internasional seringkali tidak demikian.

Sekali lagi, persolan perubahan iklim ini adalah masalah kita bersama sehingga peran dari negara-negara berkembang pun sangatlah besar. Tentunya bukan dengan membebankan negara berkembang yang masih berkutat dengan pembangunan ekonomi (yang pastinya akan memproduksi emisi gas), untuk mengurangi usaha pembangunannya. Namun perlu suatu kerjasama yang cukup adil dalam menyelesaikannya. Kebuntuan yang sempat mengancam keputusan akhir dalam sidang UNFCC di Bali akhir tahun lalu memperlihatkan arogansi sebuah negara adidaya dalam menyikapi permaslahan global ini. Semoga hal itu tidak terulang lagi dalam konferensi lanjutannya agar Bumi tidak menjadi semakin panas untuk kita tempati hingga suatu saat (entah kapan) nanti.

5 Comments:

Ackmali@ said...

hm...komen apa ya? Well, semua tindakan manusia pasti ada konsekuensinya, berdampak baik di satu sisi tapi di sisi lainnya merugikan. Termasuk isu global warming. hihihi...:)
Thanks udah mampir and kasi komen ya... keep writing and blogging :)

cantigi said...

cuaca bandung sendiri, 2 tahun terakhir ini agak "aneh" dan kadang2 unpredictable...

si dede jadul punya said...

AAARRRRRRRRGGGGHHH...
blog ape tesis?
puanjang betullll!
join greenpeace ajah!

Vidy said...

global warming... Gile.. hal yang satu ini bisa bikin perubahan cuaca dan ancaman naeknya permukaan laut.. Bisa tenggelem semua dunk.. :(

fajrin said...

@ackmalia
Yup, memang globalisasi seperti 2 sisi mata uang.Untuk menimialisir yg gak baik memang penting untuk secara tepat memahami bagaimana dampak dari setiap yang kita lakukan terhadap bumi ini
@cantigi
Iya, terakhir gw ke Bandung jg terasa panas. Kayak bukan di Bandung. Mungkin ini salah satu akibat C02..
@dede
ada low ga di greenpeace..baru aja resign nih...jobless
@vidy
Ya..tsunami di Aceh aja dahsyat..gimana kalo seluruh permukaan bumi ya...