Inovasi Teknologi di Balik Struktur Bangunan

Referensi
Foto:
www.deltawerken.com/Deltaworks/23.html
Tulisan ini dimuat juga pada link berikut:
www.market-insight.com
www.facebook.com
Continue reading...
# translating knowledge into strategy

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest Posted by fajrin at 08.03 13 comments
Labels: inovasi, kompetiblog, konstruksi, studi di belanda
Telepon genggam pertama yang saya miliki dulu adalah Nokia CDMA dan kartu yang saya gunakan adalah Flexi. Alasannya sangat sederhana. Faktor Harga. Saya memperoleh gadget pertama saya itu dari tangan kedua dengan harga cukup murah dan pilihan pada operator CDMA itu juga dengan alasan yang sama. Pada waktu itu sekitar tahun 2004 Flexi pertama kali diluncurkan dengan positioning sebagai "telepon rumah" yang dapat dibawa ke berbagai penjuru kota, seperti terlihat pada iklannya. Layanan telpon murah inilah yang kemudian menjadi keunggulan produk CDMA sehingga keunggulan teknologi dalam layanan data CDMA tidak terlalu menarik bagi konsumen. Persaingan di pasar CDMA ini kemudian diramaikan oleh kemunculan beberapa operator yang menawarkan hal yang sama. Salah satu yang pertumbuhan luar biasa adalah Esia. Mungkin hal inilah yang membuat membuat petinggi Telkom mulai berpikir untuk menggandeng Esia. Jika saja hal tersebut terjadi (walaupun sudah buru-buru dibantah oleh kedua pihak, bagaimana peta persaingan di pasar CDMA nantinya.
Teknologi CDMA menawarkan beberapa keunggulan dibandingkan GSM. Salah satunya adalah pada kemampuannya mendukung akses internet berbiaya modal rendah. Hal ini disebabkan karena jaringan CDMA dibangun di atas protokol paket data berbasis protokol internet (IP) standar sehingga operator tidak perlu lagi memasang perangkat tambahan. Berbeda dengan jaringan lain yang memerlukan perangkat data tambahan dan telepon data baru. Kemampuan tersebut membantu menekan biaya modal. Namun konsumen Indonesia tampaknnya lebih tertarik pada keunggulan utama dari CDMA yaitu tarif layanan CDMA yang lebih murah ketimbang GSM. Murahnya tarif itu dimungkinkan berkat jangkauan sinyal menara pemancar base transceiver station (BTS) CDMA yang lebih luas daripada GSM sehingga menara dapat dipasang dengan jarak yang lebih jauh. Kemampuan tersebut tentu saja dapat membantu menekan biaya modal karena radius yang jauh membuat operator membutuhkan lebih sedikit menara ketimbang GSM. Biaya lain yang juga bisa ditekan ialah biaya operasional. Keunggulan inilah yang menarik konsumen untuk menggunakan CDMA.
Di Indonesia, perkembangan produk CDMA semakin lama semakin meningkat 4 tahun belakangan. Pada awal kuartal 2007, GSM memiliki market share 88% (turun 1% dari tahun 2006), sedangkan CDMA 12% (naik 1% dari tahun 2006). Dilihat dari tingkat penetrasinya jumlah pengguna telepon CDMA di Indonesia hingga akhir kuartal pertama 2008 mencapai 16,3 juta pelanggan (Data dari CDMA Development Group (CDG) seperti dikutip dalam laporan MARS). Angka ini diperkirakan akan terus mengalami peningkatan hingga tahun 2010 mengingat tingkat pertumbuhan pengguna CDMA yang terus mengalami peningkatan. Jumlah pelanggan CDMA di Indonesia mengalami peningkatan yang cukup pesat tiap tahunnya. Tercatat, pada akhir 2006 pengguna CDMA di Indonesia baru 7,8 juta. Angka itu melonjak dua kali lipat pada akhir 2007 menjadi 14,4 juta. Dan kini hingga akhir kuartal pertama 2008 mencapai 16,3 juta.Dengan angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara yang paling besar pertumbuhan pelanggan CDMA-nya di Asia Tenggara.
Pertumbuhan konsumen yang cukup besar tersebut menjadi daya tarik bagi para operator baru yang kemudian marak bermunculan. Dari beberapa operator yang ada, dua operator yaitu Flexi dan Esia merupakan yang paling dominan. Hal itu dapat dilihat dari gaungan pangsa pasar kedua perusahaan yang diperkirakan mencapai 75 persen dari total pelanggan CDMA. Hingga awal tahun 2009 jumlah pelanggannya mencapai 13,5 juta. Prestasi yang fantastis. Pasalnya, hingga akhir 2007, Flexi baru merengkuh 6,5 juta pelanggan. Pertumbuhan 100% lebih hanya ditempuh dalam waktu setahun lebih sedikit.Hingga akhir 2008, jumlah pelanggan Esia 7,3 juta. Jumlah itu merupakan peningkatan pesat dibanding angka 3,5 juta pelanggan pada kuartal ketiga tahun 2007. Sementara itu hingga akhir 2009 jumlah pelanggan Flexi mencapai 14 juta, sementara pelanggan Esia mencapai 10,5 juta. Keduanya menguasai lebih dari 75% pasar telepon bergerak berbasis CDMA.
Fenomena Esia dan Strategi Dibaliknya
Pertumbuhan Esia merupakan sebuah fenomena dan hal ini menjadi kekhawatiran bagi Flexi. Salah satu strategi yang diterapkan Bakrie Telecom adalah strategi growth diversification. Esia secara agresif memperluas jaringan sinyal Esia hingga ke 34 kota di Indonesia. Apa yang dilakukan Esia melalui aliansi dengan berbagai perusahaan lain seperti produsen handphone CDMA (Nokia, Samsung, LG, dan lain-lain) dan bank-bank yang ada di Indonesia (BII, Bank Mandiri)bisa dikategorikan sebagai integrasi horizontal untuk memperkuat layanannay kepada konsumen.
Esia tidak hanya mengobral nomer-nomer kartu perdananya seperti kebanyakan operator lainnya, tapi memperkuat loyalitas pelanggannya dengan memberikan harga yang terbaik. Sistem talktime dalam perhitungan waktu bicara sangat memudahkan konsumen untuk mengetahui jatah bicaranya terutama yang sangat peduli dalam harga. Sistem ini dianggap lebih mudah dipahamis konsumen dibanding dengan sistem pulsa.
Dengan strategi ini Esia berhasil menguatkan posisinya di pasar CDMA dan mulai menggerogoti pangsa pasar Flexi sebagai incumbent. Hal ini pula yang kemudian disinyalir menjadi kekhawatiran pihak Telkom sehingga muncul isu adanya pembicaraan dengan Esia mengenai akuisisi atau kerjasama lainnya dengan Esia.
Seandainya Akuisi tersebut terjadi
PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) seperti dikutip oleh beberapa Media mengakui minatnya terhadap PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Raksasa telekomunikasi di Indonesia ini tengah menjajaki penggabungan unit bisnisnya berbasis code division multiple access (CDMA) bermerek Flexi dengan produk sejenis milik BTEL, Esia. Salah satunya seperti dikutip oleh KONTAN, Direktur kata Direktur Keuangan TLKM bahwa telah ada pembicaraan serius namun mengaku belum mengambil keputusan apapun. Pengakuan Sudiro itu hanya mempertegas kabar yang berkembang selama ini. Sebelumnya, sumber KONTAN pernah membisikkan Telkom dan BTEL terlibat pembicaraan untuk menggabungkan bisnis telepon CDMA-nya. Tujuannya, mengurangi beban biaya operasional kedua perusahaan. Maklum, setiap operator telepon berbasis CDMA bisa beroperasi efisien jika memiliki 25 juta pelanggan. Asal tahu saja, Flexi menargetkan memiliki sekitar 13 juta pelanggan hingga akhir tahun ini. Sedangkan Esia optimistis mengoleksi 10 juta pelanggan.
Selain itu adanya kerjasama pemasaran antara SMART dan FREN dengan meluncurkan logo SmartFren juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi petinggi Telkom dan Bakrie untuk melakukan hal yang sama.
Saya membayangkan, jika akuisisi tersebut benar-benar terjadi maka satu hal yang menjadi kekhawatiran saya dan konsumen pada umumnya. Kekuatan monopoli akan menguasai pasar dan penjual akan menaikkan harganya. Flexi dan Esia menguasai lebih dari 75% pasar telepon bergerak berbasis CDMA. Hal ini sudah cukup bagi mereka untuk menjadi mengeksploitasi konsumen.
Namun, belum selesai isu ini beredar, manajemen dari kedua operator tersebut sudah buru-buru mencabut pernyataannya. Syukurlah.
Sekitar 3-4 tahun yang lalu di sebelah rumah saya dibangun menara transmisi telekomunikasi seluler yang lebih dikenal dengan sebutan menara BTS (Base Transceiver Station). Sekitar tahun itu pula saya membeli Handphone pertama saya melalui uang hasil kerja sambilan semasa kuliah. Saat itu saya menyaksikan meriahnya persaingan di Industri Telekomunikasi dan menikmati dampaknya sebagai konsumen, tarif yang sangat bersaing dari para operator. Pada waktu itu, yang muncul dalam benak saya mengenai telekomunikasi hanyalah industri jasa telekomunikasi (dilihat dari maraknya persaingan antar operator-operator telekomunikasi seperti terlihat di media TV) dan industri peralatan telekomunikasi (dengan ragam jenis HP yang muncul di pasaran dengan harga yang kompetitif). Tak pernah terpikirkan sedikitpun tentang apa yang ada di balik menara-menara BTS yang bertebaran di penjuru kota, termasuk di dekat rumah saya waktu itu.
Baru beberapa bulan yang lalu ketika saya mulai bekerja di BUMN yang bergerak di industri baja, saya memiliki kesempatan untuk berkunjung ke sebuah pabrikan di Jawa Timur yang memproduksi komponen dari menara transmisi tersebut. Di sana saya menyimak penjelasan jajaran manajemen mengenai prospek bisnis yang mereka jalani dan kebutuhan mereka akan pasokan baja.
Ketika itu sambil mendengarkan penjelasan tentang prospek bisnis menara, saya membolak balik halaman brosur produk mereka dan mulai melihat keterkaitan industri telekomunikasi seluler dengan bisnis baja tempat saya bekerja dan produk baja turunannya seperti pabrikan yang saya kunjungi waktu itu. Penjelasan yang diberikan semakin menjelaskan posisi industri telekomunikasi dan industri penunjangnya.
Hal itu kemudian mengingatkan tentang sebuah konsep yang saya dapat di bangku kuliah dulu mengenai keterkaitan kebelakang dan ke depan (backward and forward linkage) dari satu sektor dengan sektor lainnya dalam perekonomian. Konsep ini dapat memetakan keterkaitan antar sektor dan melihat sektor mana yang berperan besar terhadap perekonomian. Lebih dari itu konsep ini juga dapat menjelaskan dampak multiplier dari perkembangan satu sektor terhadap sektor lainnya. Dengan suatu angka multiplier dapat dilihat berapa besar pengaruh perkembangan di satu sektor terhadap sektor lainnya dan perekonomian secara umum.
Lebih menariknya lagi jika satu sektor dan lainnya tersebut berada dalam kategori yang berbeda seperti yang terjadi antara industri baja dengan telekomunikasi. Industri baja merupakan sektor yang dikategorikan sebagai tradeable sector dan sementara sektor telekomunikasi seluler ini merupakan non tradeable sector. Sektor non tradeable seperti jasa telekomunikasi adalah sektor yang paling berkembang saat ini dengan prospek bisnis yang menarik dan mengundang banyak investor. Namun sektor non tradeable bukanlah sektor yang menyerap tenaga kerja cukup besar karena sifatnya yang capital intensif. Sementara di sisi lain tradeable sector seperti industri manufaktur (misalnya industri baja dan turunannya) lebih bersifat labor intensive dan memiliki peranan yang sangat besar dalam penyerapan tenaga kerja. Keterkaitan antara kedua industri tersebut merupakan hal yang sangat unik karena dari sinyal-sinyal seluler tersebut ternyata memberikan dampak yang besar terhadap sektor lainnya.
Dari beberapa sektor penunjang yang ada di industri telekomunikasi sektor baja memiliki peran yang menonjol dalam perekonomian dan mampu melipatgandakan efek tersebut. Hasil kajian LPEM FEUI dan PT. Krakatau Steel (2009) dengan menggunakan tabel input output menemukan bahwa peranan sektor industri baja dalam perekonomian sangatlah besar. Hal itu dapat dilihat dari multiplier effect yang dihasilkan dari setiap perubahan Rp 1 (satu rupiah) permintaan sektor baja yang akan berdampak terhadap perekonomian sebesar Rp 1,73 atau hampir 2 kali lipatnya. Jika dilihat dari penyerapan tenaga kerja industri baja merupakan industri yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar baik langsung maupun tidak langsung, Setidaknya 250.000 tenaga kerja yang terlibat langsung dalam industri baja belum lagi industri-industri turunannya.
Bisnis telekomunikasi adalah bisnis yang terkait erat dengan jaringan (network industry) sehingga ketersediaan infrastruktur jaringan yang memadai menjadi kunci keberhasilan pemain dalam bisnis ini. Untuk itu operator telekomunikasi menggelontorkan dana yang sangat besar untuk memastikan kualitas sinyal-sinyal selulernya akan sampai hingga ke konsumen yang paling pelosok.
Hal itu dapat dilihat dari belanja modal di industri telekomunikasi yang sangat besar, khususnya untuk pembangunan menara BTS. Data di tahun 2008 saja menunjukkan bahwa Telkomsel menganggarkan CAPEX (Capital Expenditure) sekitar US$1,7 miliar (Rp 17 triliun). Kemudian Indosat menggelontorkan dana modal sampai US$1,2 miliar (Rp 12 triliun). Sementara XL menganggarkan sekitar US$650 juta (Rp 6 triliun). (www.handphone.co.id). Jika ditotal ketiga operator GSM itu saja mengeluarkan belanja modal sebesar Rp 35 triliun setiiap tahunnya. Bahkan Ditjen Postel pada waktu itu memperkirakan potensi pasar bisnis menara mencapai 100 triliun. Hal didasari dengan asumsi biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan satu unit menara sebesar Rp 1-2 miliar. Maka dengan perkiraan pertumbuhan menara sebesar 100.000 unit pertahun (asumsi sebelum adanya regulasi menara bersama dengan jumlah dimana satu operator rata-rata membangun 5000 unit menara) maka belanja modal untuk menara BTS akan mencapai Rp 100 triliun setiap tahun. Dari 100 triliun tersebut asumsikan saja alokasi untuk bahan baku baja sekitar 20 persennya maka akan ada sekitar 20 triliun yang dibelanjakan untuk keperluan bahan baku baja setiap tahunnya. Dengan kata lain untuk menghasilkan sinyal-sinyal yang berkualitas akan ada permintaan senilai 20 triliun untuk bahan baku baja.
Mengutip kembali hasil kajian LPEM dimana setiap perubahan Rp 1 permintaan sektor baja akan berdampak terhadap perekonomian sebesar Rp 1,73 atau hampir 2 kali lipatnya. Maka hal ini akan menciptakan dampak multiplier terhadap perekonomian sebesar 2 kali lipatnya atau dalam hal ini jika terjadi permintaan baja senilai 20 triliun pertahun maka akan berpengaruh terhadap peningkatan output dalam perekonomian nasional sebesar 40 triliun.
Perhitungan sederhana tersebut menggambarkan besarnya potensi bisnis telekomunikasi dan bagaimana sinyal-sinyal seluler itu akan menguatkan industri baja yang terkait dibelakangnya. Walaupun dengan adanya perubahan regulasi mengenai menara bersama namun yang akan terjadi hanyalah perpindahan operasionalisasi menara dari operator kepada kontraktor menara dan bisnis pembangunan menara akan tetap menarik dan memberikan efek pengganda terhadap sektor penunjangnya yang kemudian akan berdampak lebih luas terhadap perekonomian nasional.
Menara BTS di dekat rumah saya yang dulu tak pernah saya pandangi itu kini menarik perhatian saya kembali sambil membayangkan sekitar 40 ribuan menara lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia. Dibalik menara-menara BTS yang bertebaran tersebut tidak hanya terdapat kekokohan material baja yang menopang sinyal-sinyal telekomunikasi seluler yang ”nyambung terus” (meminjam istilah dari XL) namun juga ”nyambung terus” hingga ke industri baja melalui keterkaitan yang menimbulkan dampak peningkatan terhadap permintaan bahan material baja yang kemudian akan menggerakkan bisnis baja domestik. Hingga akhirnya efek tersebut akan diteruskan dan berdampak terhadap perekonomian nasional
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest Posted by fajrin at 05.57 2 comments
Labels: industri baja, telekomunikasi, XL
Dinamika memang selalu menghasilkan hal-hal baru yang menarik sebagai hasil dari adaptasi terhadap perubahan yang terjadi. Jika dulu Badan Usaha Milik Negara (State Owned Enterprise, SOE) atau BUMN berada dalam posisi yang dominan untuk menentukan harga dan bersikap seperti raja maka kini sebaliknya. Perubahan telah membalikkan posisi tersebut dan mereka mulai melakukan adaptasi melalui proses transformasi yang dilakukan saat ini, termasuk dalam pricing strategy mereka.
Dalam tulisannya yang sangat menarik berjudul “Price is Currency”, Hermawan Kartajaya (HK) menjelaskan kehebatan dari pricing yang menurutnya memiliki kekuatan super karena tidak hanya menentukan profit tetapi juga membentuk perilaku konsumen. Dalam argumennya ia mengatakan bahwa konsumen dapat berubah pikiran dengan melihat harga yang dianggap kurang pas, tapi bisa juga tetap membeli walau dengan harga yang mahal karena akan menentukan status sosialnya. Kemudian dengan mengutip hasil riset dari Michael Mann yang menyatakan bahwa elastisitas dari pricing lebih besar dari variabel lainnya ia menyimpulkan bahwa pricing menentukan profit secara bottom line. Dalam artikel tersebut HK menegaskan bahwa dalam era new wave terjadi perubahan dalam pola pricing dimana price akan ditentukan secara bersama dan tidak lagi oleh satu pihak. Selain itu dalam era new wave, transparansi harga menjadi hal yang lumrah sehingga konsumen berada dalam posisi yang sama mengenai informasi harga. Lebih jauh lagi menurut HK, konsep costumized product akan mendorong timbulnya komunitas-komunitas yang kemudian akan menciptakan hubungan horizontal antara produsen dengan konsumen dalam interaksinya.
Dikaitkan dengan apa yang terjadi di BUMN, kebijakan pricing mereka dulu tidak sesulit apa yang mereka lakukan saat ini ketika semuanya berubah. Pada masanya itu banyak BUMN berada dalam posisi dominan dan memiliki kekuatan menentukan harga di pasar yang cenderung monopolistis. Dengan kondisi tersebut pertimbangan utama dalam pricing hanyalah pada unsur biaya (cost based strategy) dimana sebagian besar dipastikan tidak efisien dan hampir tidak pernah memperhatikan “C” lainnya (Costumer, Competitor dan Change). Dengan posisi tersebut maka konsumen tidak memiliki pilihan dan menerima berapapun harga yang dikenakan produsen. Pada masa itu sebenarnya BUMN telah mengenal konsep konsumen adalah raja namun tetap tidak mempengaruhi perilaku mereka karena mereka menganggap dirinya adalah dewa yang lebih berkuasa dari raja.
Kini dalam pasar yang semakin kompetitif dan didorong oleh tuntutan untuk berubah, kebijakan harga (pricing policy) sebagian besar BUMN mulai memperhatikan unsur consumer & competitor yang didorong oleh faktor change. Kita dapat melihat beberapa contohnya dari BUMN besar yang berhasil melewati tahapan tersebut dan dinilai berhasil melakukan tahapan awal transformasi. Beberapa BUMN besar seperi Garuda, Telkom,dan Pertamina yang dulu sempat memiliki posisi dominan kini telah memperhatikan unsur “C” lainnya itu dalam kebijakan pricing-nya. Hal itu dapat dilihat dari apa yang mereka lakukan kepada konsumennya saat ini. Tidak ada lagi kenaikan harga secara satu pihak karena konsumen akan mudah beralih kepada produk substitusi lainnya. Semua itu mencerminkan dimasukannya unsur market based, cost based, competitor based, dan value based pricing dalam strategi pricing mereka.
Hal yang menarik kemudian adalah jika BUMN tersebut bergerak bukan dalam sektor B2C (Business to Consumer) melainkan B2B (Business to Business) apakah strategi yang sama masih berlaku?. Dalam sektor B2B sebagian besar aktivitas pemasaran dan penjualan lebih bersifat teknis dan rutinitas prosedural sehingga seringkali dianggap bahwa aktivitas pemasaran tidak akan terlalu berguna. Saya mengambil contoh di industri baja tempat saya bekerja dimana pasar yang dihadapi adalah sektor B2B market ditambah lagi dengan karakteristik produknya yang bersifat standar dan hampir tidak terjadi differensiasi antara spesifikasi jenis produk, maka kebijakan penentuan harga akan lebih dipengaruhi oleh faktor biaya (cost). Dengan sifatnya tersebut persaingan yang terjadi adalah persaingan harga. Maka tidak heran jika pendapat yang muncul dan menjadi kepercayaan utama dalam industri B2B bahwa upaya menciptakan biaya yang rendah akan lebih efektif dibanding upaya marketing lainnya.
Pendapat tersebut sangat tepat, namun dalam pandangan saya selain upaya untuk melakukan perbaikan di sisi internal (cost) kebijakan penentuan harga (pricing) tetap harus mempertimbangkan unsur market, costumer, dan value di mata konsumen untuk dapat menciptakan profit yang optimal. Perbaikan dari sisi biaya hanya akan menciptakan normal profit, sedangkan upaya marketing melalui penciptaan value bagi konsumenlah yang akan menciptakan supernormal profit bagi perusahaan.
Kembali kepada praktik new wave marketing yang dijelaskan HK dalam artikel tersebut bahwa dengan hubungan yang horizontal antara produsen dan konsumen ditambah lagi dengan transparansi mengenai informasi harga maka co creation yang dapat dilakukan perusahaan B2B seperti dalam industri baja yang saya ambil contohnya ini adalah dengan menggunakan saluran komunal yang terkait dengan aktivitas bisnis baja misalnya komunitas dalam bentuk asosiasi otomotif, konstruksi dan perkapalan yang merupakan konsumen terbesar dari produk baja. Interaksi tersebut disatu sisi juga menjadi sarana bagi produsen baja untuk mengetahui apa yang dinginkan konsumen (bisnis) dan informasi mengenai harga yang sesuai dengan ekspektasi mereka.
Selain itu dalam komunitas ini juga dapat dilakukan langkah pemasaran lebih lanjut sebagai bentuk saluran distribusi melalui apa yang disebut HK dalam artikel lainnya sebagai communal activation. Hal itu dilakukan melalui upaya interaktif bersama dengan konsumen. Dalam industri baja hal itu dapat menjadi umpan balik bagi produsen dalam pengembangan teknologi dan aplikasi teknologi yang dapat berdampak langsung terhadap peningkatan value bagi konsumen.
*Posting ini diikutsertakan dalam kompetisi 100 tickets for Bloggers @ MarkPlus Conference 2010 dan juga merupakan tanggapan atas artikel “Price is Currency” New Wave Marketing pada Kompas.com
Malam itu saya chatting dengan sepupu saya Danu, yang baru saja lulus SMA dan sedang menunggu pengumuman SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 2009 atau yang dulu dikenal dengan SPMB, UMPTN, SIPENMARU dan nama-nama lainnya sebelum itu. Semangatnya yang begitu besar mengikuti SNMPTN dan harapan untuk diterima di UI mengingatkan saya akan masa sekitar 8 tahun yang lalu ketika saya mengikuti UMPTN dan memiliki perasaan harap-harap cemas yang sama. Begitu besarnya keinginan untuk kuliah di PTN sampai-sampai dia berniat untuk menunggu 1 tahun untuk mengikuti SNMPTN lagi jika gagal tahun ini. Niat yang sama yang juga saya pikirkan 8 tahun yang lalu, walau akhirnya tidak perlu saya lakukan.
Salah satu alasan bagi beberapa lulusan SMA yang sedang mencari Perguruan Tinggi adalah citra kualitas pendidikan di PTN yang konon lebih baik. Setidaknya citra tersebut menjadi prestise tersendiri dan menjadi alasan seseorang untuk memilih PTN dibanding PTS seperti yang juga ditekankan oleh bos saya di kantor kepada anaknya dalam memilih PT. Alasan lainnya untuk ngotot kuliah di PTN mungkin karena PTN menjadi satu-satunya pilihan ketika biaya pendidikan yang sangat mahal tidak memungkinkan untuk mencari alternatif. Biaya pendidikan di beberapa PTN yang telah berubah statusnya menjadi BHMN memang bisa dibilang tidak lagi murah namun setidaknya masih banyak kesempatan beasiswa-beasiswa yang terhampar dan pengurangan-pengurangan biaya yang bisa didapat di PTN. Itu juga yang menjadi alasan saya dulu begitu ngototnya untuk kuliah di PTN. Namun dengan kondisi keuangan yang memadai (seperti yang bos saya miliki) dan pilihan universitas lainnya yang tidak kalah dari sisi kualitas membuat saya bertanya-tanya apa sih keunggulan PTN saat ini sehingga lulusan SMA seperti sepupu saya dan orang tua seperti bos saya masih ngotot untuk mengejarnya.
Tingginya minat terhadap PTN dan jurusan tertentu bisa jadi mencerminkan masih minimnya sebaran PTN yang memenuhi standar kualitas atau memang persepsi di masyarakat yang sudah terlanjur melekatkan kualitas pendidikan tinggi dengan PTN. Beberapa indikator yang cukup independen untuk menilai kualitas adalah ranking yang dikeluarkan oleh misalnya Times Higher Education dan tingkat penyerapan di dunia kerja yang ukurannya lebih kepada persepsi masyarakat dan dunia kerja terhadap lulusan PT. Sementara itu ukuran formal yang biasa digunakan adalah tingkat akreditasi Perguruan Tinggi yang dikeluarkan BAN namun saya sendiri kurang mempercayai ukuran tersebut. Akreditasi menurut saya hanyalah syarat perlu namun belum cukup (necessay but unsufficient condition) untuk menyebut suatu universitas berkualitas atau tidak.
Untuk indikator yang pertama, beberapa universitas di Indonesia berhasil masuk dalam 200 besar universitas terbaik di Asia pada 2009. Universitas Indonesia berada di peringkat ke-50, Universitas Gajah Mada (UGM) ke-65, Institut Teknologi Bandung (ITB) peringkat ke-80, Universitas Pertanian Bogor (dulu IPB) di peringkat ke-119, Universitas Airlangga di peringkat ke-130, Universitas Diponegoro di peringkat 175 sementara itu Universitas Sebelas Maret dan Brawijaya di peringkat 191. Terlepas dari parameter yang digunakan dalam penilaian tersebut wajar saja jika masyarakat menilai bahwa kualitas PTN lebih baik dibandingkan PTS.
Ukuran lainnya adalah penerimaan di dunia kerja. Majalah Tempo pernah mengeluarkan sebuah indikator yang mengukur persepsi dunia kerja terhadap kualitas lulusan sebuah PT. Yang saya ingat sebagian besar yang masuk dalam peringkat atas PTN. Lagi-lagi ini adalah masalah persepsi dari pengguna tenaga kerja yang bisa saja dipengaruhi oleh banyak faktor. Dari pengalaman pribadi ketika mencari kerja juga tercermin hal yang sama. Bahkan teman saya yang lulusan PTS baru-baru ini komplain dengan pengalaman yang dia rasakan bahwa sering ada perlakuan khusus terhadap lulusan PTN. Tentunya perlakuan khusus yang dimaksud adalah preferensi dari pencari kerja dalam menentukan siapa yang lolos seleksi administrasi (seleksi tahap awal). Dia merasa pencari kerja lebih memilih lulusan dari PTN dan itu terlihat dari tempat penyelenggaraan seleksi tersebut yang lebih sering di PTN-PTN. Hal itu terutama berasal dari perusahaan BUMN dan instansi pemerintah yang lebih menyukai lulusan PTN yang dianggap memiliki kualitas lebih baik. Konon standar IPK yang mereka gunakan juga mencerminkan hal itu. Beberapa BUMN masih mencantumkan minimal IPK 2,75 (Krakatau Steel misalnya) untuk mengakomodasi lulusan PTN yang konon lebih sulit untuk mendapatkan nilai A.
Pengalaman saya bekerja di BUMN selama hampir setahun ini juga kurang lebih menggambarkan hal yang sama. Ada pandangan bahwa PTN lebih baik dari PTS. Bahkan lebih spesifik lagi bahwa PTN A lebih baik dari PTN B. Ini yang saya dengar dari manajer saya di kantor (yang juga lulusan PTN) yang memiliki persepsi bahwa kualitas PTN A lebih baik dari PTN B sehingga dia memberi maklumat pada anaknya bahwa pilihannya hanya dua : UI atau ikut ujian lagi tahun depan. Persepsi tersebut muncul dari pengalaman mereka sebagai user terhadap lulusan PTN. Namun saya sendiri kurang begitu setuju dengan pandangan tersebut. Ketika bersama-sama dengan rekan saya yang lain yang berasal dari PTS justru saya menilai beberapa dari mereka yang PTS lebih baik dari beberapa mereka yang PTN terutama dalam hal motivasi bekerja. Dalam pengamatan saya jika dilihat dari pencapaian yang diraih oleh lulusan-lulusan PTN di tempat kerja memang sebagian besar berhasil meraih posisi yang dominan dibanding lulusan PTS. Bisa jadi hal ini yang kemudian menjadi dasar persepsi yang muncul dari manajer saya sehingga hanya memberikan dua pilihan tersebut.
Indikator lain lain yang lebih penting namun sering kali luput dan tidak begitu populer bagi masyarakat adalah apakah lulusan PTN dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Jika ini yang menjadi ukuran saya yakin lulusan PTN lebih buruk dari PTS atau ketika dibandingkan dengan mereka yang belom pernah mengenyam pendidikan. Ada satu artikel menarik di Koran Tempo (1 Agustus 2009) dengan judul "Ponsel Bandit" yang menyinggung tentang hubungan kecerdasan dan kesuksesan dengan mengambil contoh bagaimana pengusaha di China yang hanya lulusan sekolah seni menghasilkan ponsel yang begitu sukses dengan menjiplak produk branded dan kemudian menjualnya dengan harga yang murah di negara-negara Asia termasuk Indonesia.Nexian adalah salah satu contohnya. Moral story dari artikel itu adalah kecerdasan hanya menyediakan landasan namun tidak menentukan kesuksesan seseorang. Hal yang kedengarannya klise dan sering kali kita dengar dari berbagai ceramah motivasi tentang kesuksesan. Jika melihat pengalaman beberapa orang sukses di Indonesia sebagian besar dari mereka bukan lulusan PTN bahkan orang seperti Bob Sadino tidak sempat mengenyam perguruan Tinggi. Para entrpreneur tersebut memiliki sebuah kunci ayng tidak dimiliki oleh mereka yang berpendidikan lebih tinggi terutama dari PT ternama yaitu keberanian mengambil resiko. Dalam bukunya yang terkenal Joseph Schumpeter menyebut para entrepreneur ini : the night erant who ready to slay the dragon of stagnation
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Bagikan ke XBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest Posted by fajrin at 16.54 4 comments
Labels: pendidikan, PTN
38811-080719-305245-90 Rate content:
© 2008 All Rights Reserved.